Rabu, 12 Februari 2014

0 CIO Terbaik Indonesia 2014

Jakarta (detik.com) - Dalam event IT Infrastucture Summit 2014 yang digelar CTI Group, salah satu agendanya adalah pemilihan CIO terbaik. Adapun yang dipilih adalah CIO dengan inovasi terbaik, intelegensi tinggi, dan paling berpengaruh. Siapa pemenangnya?

Berdasarkan hasil penilaian yang telah dilakukan, The Most Innovative CIO dimenangkan oleh Ongki Kurniawan yang menjabat sebagai Chief Service Management Officer XL Axiata. Petinggi XL ini dinilai sukses mengembangkan sistem yang inovatif dan customer oriented yang berujung pada meningkatnya bisnis data XL secara signifikan.

Sementara itu pemenang kategori The Most Influence CIO diraih oleh M. Kuncoro Wibowo yang merupakan Managing Director of Human Capital, GA & IT PT Kereta Api Indonesia (KAI).

Kuncoro dianggap berhasil meyakinkan stockholder KAI yang dalam hal ini adalah pemerintah, peer group, dan organisasi di bawahnya untuk memanfaatkan teknologi informasi dalam melakukan transformasi bisnis di lingkungan (kerja) yang kompleks.

Sedangkan peraih The Most Intelligent CIO dinobatkan kepada Utoyo S. Nurtanio selaku CIO Trakindo Utama. Petinggi perusahaan yang menggeluti alat-alat berat ini dinilai para juri berhasil mentransformasikan bisnisnya yang berpengaruh pada meningkatnya kapabilitas perusahaan dengan cara mengubah kapabilitas bisnis inti dan juga ‘bukan bisnis inti’ yang ada menjadi lebih baik.

“iCIO Award ditujukan untuk memberikan apresiasi kepada para CIO atau staf senior di bidang TI yang telah terbukti mampu memberikan nilai tambah untuk menciptakan daya saing bagi organisasi,” ujar Harry Surjanto, Presiden Direktur CTI Group sekaligus pencetus iCIO Award.

“iCIO Award diharapkan sekaligus mendorong serta memotivasi para CIO dan staf senior untuk memberikan kontribusi positif melalui pemahaman kebutuhan perusahaan dengan menghadirkan dan mengoptimalkan pemanfaatan teknologi,” pungkasnya.

(yud/ash)

Kamis, 06 Desember 2012

0 Porter's Five Forces Framework

Teknik pada kerangka kerja Porter’s Five Forces menguji domain bisnis dengan sesuatu dimana organisasi beroperasi, serta mengenali tekanan bisnis yang menunjang organisasi. Michael Porter membagi sumber potensial tekanan industry ke dalam lima kategori yang dijelaskan dalam gambar berikut:
Kerangka Kerja Porter’s Five Forces [1]
Berikut ini merupakan beberapa pertanyaan untuk mengidentifikasi faktor diantara domain bisnis yang berpengaruh potensial terhadap organisasi baik positif maupun negative.

1. Industry Competitors :
  • Pada tingkatan berapa suatu produk atau jasa berada dalam kompetisi industri?
  • Apakah organisasi berada pada posisi kompetisi yang baik atau hanya sebagai pemain minor?
  • Apakah ada sebagian besar kompetitor yang memegang kuasa dalam industri?

Rabu, 03 Oktober 2012

0 Perbedaan BSC dan IT BSC


IT BSC diperkenalkan oleh Van Grembergen dan Van Bruggen pada tahun 1997 ketika mereka mengadopsi Balanced Scorecard untuk digunakan pada Departemen Teknologi Informasi organisasi. Menurut pandangan mereka Departemen Teknologi Informasi merupakan penyedia layanan internal. Oleh karena itu perspektif yang digunakan harus diubah dan disesuaikan. Dengan melihat bahwa pengguna mereka adalah pegawai internal dan kontribusi mereka dinilai berdasarkan pandangan pihak manajemen maka mereka mengajukan perubahan perspektif seperti pada gambar dibawah ini.


Perspektif IT BSC
Dari hasil penelitian yang dilakukan Van Grembergen dan Van Bruggen diperoleh pengembangan konsep BSC yang diterapkan pada Teknologi Informasi. Mereka memperkenalkan empat perspektif dalam IT BSC seperti dalam tabel II dibawah
ini :

Keempat perspektif diatas, harus diterjemahkan kedalam matrik dan pengukuran yang berkesesuaian dengan penilaian situasi yang ada. Sehingga diperoleh sebuah hubungan yang saling berkaitan yaitu hubungan sebab dan akibat diantara pengukuran (cause and effect). Dari hasil penelitian Grembergen dan Van Bruggen dapat dijelaskan bahwa masing-masing perspektif saling mempengaruhi dan terkait satu sama lain. Dimana perspektif future orientation akan berpengaruh kepada pencapaian perspektif operational excellence yang selanjutnya akan mempengaruhi perspektif customer orientation dan pada akhirnya mempengaruhi perspektif corporate contribution. Ketika perspektif corporate contribution memberikan hasil yang positif maka akan membutuhkan peningkatan pada perspektif future orientation. 





Rabu, 25 Juli 2012

0 5 Praktik dan 10 Komitmen Kepemimpinan Teladan

The Five Practices and Ten Commitments of Exemplary Leadership atau terjemahan bebas Bahasa Indonesianya adalah "Lima Praktik dan Sepuluh Komitmen Kepemimpinan teladan". Nilai-nilai personal ini didapatkan dari hasil riset intensif kepemimpinan yang dilakukan oleh James M. Kouzes dan Barry Z. Posner.

Dalam melakukan riset intensif tersebut Kouzes-Posner tidak terfokus kepada orang terkenal yang mempunyai pengaruh untuk membuat headline, tetapi lebih berfokus pada orang biasa yang melakukan hal luar biasa terhadap organisasi.

Kouzes-Posner melakukan risetnya dengan melakukan survey terhadap ribuan orang baik melalui kuesioner tertulis maupun wawancara untuk mendapatkan "Personal-Best Leadership Experience". Tiap orang diminta untuk memilih satu proyek, program atau peristiwa signifikan yang mewakili suatu keadaan yang mereka anggap sebagai praktik terbaik dalam pengalaman kepemimpinan. Para responden disuruh untuk mengingat kembali mengenai pengalaman kepemimpinan mereka saat berada di puncak kinerjanya.

Meskipun ada banyak perbedaan dari cerita para individu, pengalaman pribadi mengenai kepemimpinan terbaik yang berhasil disimak dan dikumpulkan menghasilkan pola tindakan yang sama. Di saat pemimpin dalam keadaan personal-best-nya, mereka biasanya terlibat dalam lima praktik dari kepemimpinan teladan yaitu:

1. Model The Way (Contoh/Suri Tauladan);
a. FIND YOUR VOICE (TEMUKAN POTENSI ANDA) dengan mengklarifikasi nilai-nilai anda;
b. TETAPKAN CONTOH dengan menyelaraskan tindakan-tindakan dengan nilai-nilai bersama;

2. Inspire a Shared Vision (Menginspirasi Visi Bersama);
c. MEMBAYANGKAN MASA DEPAN dengan membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang mengangkat derajat dan menarik;
d.  MELIBATKAN YANG LAIN dalam sebuah visi umum dengan merujuk kepada aspirasi bersama;

3. Challenge the Process (Menantang Proses);
e. MENCARI PELUANG dengan mencari cara-cara inovatif untuk berubah, tumbuh dan berkembang;
f. EKSPERIMEN DAN MENGAMBIL RISIKO secara konstan menghasilkan keuntungan-keuntungan kecil dan belajar dari kesalahan;

4. Enable Others to Act (Mengaktifkan yang lain untuk bertindak);
g. MENDORONG KOLABORASI dengan mempromosikan tujuan-tujuan koperatif dan membangun kepercayaan;
h. MENGUATKAN YANG LAINNYA dengan berbagi kekuasaan dan kebijaksanaan;

5. Encourage the Heart (Meneguhkan hati);
i. MENYADARI KONTRIBUSI dengan menunjukan apresiasi bagi keunggulan individu;
j. MERAYAKAN KEMENANGAN DAN NILAI-NILAI dengan menciptakan semangat komunitas.

Referensi:
Kouzes and Posner. The Leadership Challenge Workbook. Jossey-Bass. 2003.

Senin, 02 Juli 2012

4 Outsourcing: Pengertian, Macam dan Manfaat

1. Pengertian Outsourcing

Tuntutan persaingan dunia usaha yang ketat di era globalisasi saat ini menuntut perusahaan untuk berusaha meningkatkan kinerja usahanya melalui pengelolaan organisasi yang efektif dan efisien. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mempekerjakan tenaga kerja seminimal mungkin untuk dapat memberi kontribusi maksimal sesuai sasaran perusahaan. Untuk itu perusahaan berupaya fokus menangani pekerjaan yang menjadi bisnis inti (core business), sedangkan pekerjaan penunjang diserahkan kepada pihak lain. Proses kegiatan ini dikenal dengan istilah “outsourcing.”  Outsourcing  merupakan trend untuk mengatasi persoalan-persoalan bisnis yang dihadapi saat ini (Beaumont dan Sohal, 2004).  Beberapa definisi outsourcing  yang telah dikembangkan oleh para ahli, diantaranya:
  1. Outsourcing  adalah tindakan memindahkan beberapa aktivitas rutin internal perusahaan, termasuk dalam hal pengambilan keputusan  kepada pihak lain yang diatur oleh kontrak perjanjian (Maurice F. Greaver II,1999);
  2. Outsourcing adalah pemindahan tanggung jawab manajemen kepada pihak ketiga secara berkesinambungan di dalam menyediakan layanan yang diatur oleh perjanjian (Shreeveport Management Consultancy );
  3. Outsourcing adalah kontrak dengan pihak lain (di luar perusahaan) terhadap fungsi, tugas atau layanan organisasi dalam rangka mengurangi beban proses, memperoleh keahlian teknis maupun penghematan biaya (Eugene Garaventa, Thomas Tellefsen, 2001);
  4. Outsourcing  adalah aktivitas dimana  supplier (pihak pemasok/vendor) menyediakan barang dan/atau layanan kepada buyer (pihak perusahaan) berdasarkan perjanjian yang telah  disepakati (Elfing & Baven, 1994; Domberger, 1998).
Dari keempat definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa  outsourcing  adalah pendelegasian operasi atau pekerjaan yang bukan inti (non-core) yang semula dilakukan secara internal kepada pihak eksternal yang memiliki spesialisasi untuk melakukan operasi tersebut (Sharing Vision, 2006). Keputusan bisnis  outsourcing  dilakukan pada umumnya untuk menekan biaya atau untuk meningkatkan fokus pada kompetensi inti.

Apabila ditinjau dari aspek teknologi informasi, maka pengertian outsourcing teknologi informasi adalah pemberdaya an organisasi eksternal di dalam menyediakan layanan teknologi informasi bagi  organisasi internal (Chen & Perry,
2003). Contoh layanan teknologi informasi yang paling sering di  outsourcing-kan yaitu network, desktop , aplikasi serta  web hosting.

2. Macam-macam Outsourcing  
Terdapat beberapa tinjauan tentang macam-macam  outsourcing  yang telah dikembangkan oleh para ahli, diantaranya adalah sebagai berikut :

Menurut  Sharing Vision (2006), berdasarkan taksonominya,  outsourcing  dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu :
  1. Outsourcing, yaitu pendelegasian operasi atau pekerjaan yang bukan inti (non-core) yang semula dilakukan secara internal kepada pihak eksternal yang memiliki spesialisasi untuk melakukan operasi tersebut. Keputusan outsourcing  dilakukan pada umumnya untuk menekan biaya atau untuk meningkatkan fokus pada kompetensi inti.
  2. Off-Shoring, yaitu mengalihkan pekerjaan ke negara lain.  Off-shoring dapat sekaligus berarti outsourcing  jika pekerjaan tersebut dialihkan kepada pihak lain. Namun offshoring dapat juga bukan merupakan outsourcing  jika perusahaan secara internal tetap menangani pekerjaan yang dialihkan secara geografis ke negara lain.
  3. Business Process Outsourcing (BPO), yaitu penyediaan atau manajemen proses untuk aplikasi perusahaan yang kritikal/non kritikal oleh vendor yang memiliki spesialisasi khusus. Contoh umum dari BPO adalah  call
    centre , manajemen SDM, akunting dan sistem penggajian. BPO dapat dijelaskan dengan melihat perbedaannya dengan  application service provider (ASP) dimana BPO meliputi pera ngkat lunak, manajemen proses, pengadaan SDM untuk mengoperasikan layanan, sedangkan ASP hanya memberikan hak untuk mengakses dan mempergunakan fitur atau fungsi-fungsi tertentu yang disediakan oleh sebuah perangkat lunak. Layanan ASP pada umumnya disediakan melalui web browser.
Menurut Indrajit (2000), berdasarkan jenisnya, outsourcing teknologi informasi dapat dibedakan menjadi 4 jenis  yaitu : 

  1. Total Outsourcing   yaitu perusahaan cenderung menyerahkan hampir semua fungsi teknologi informasinya seperti perangkat keras, perangkat lunak, dan  brainware kepada pihak lain. Di Indonesia, perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang industri manufaktur, pertambangan, konfeksi, dan kimia merupakan beberapa contoh institusi bisnis yang telah menerapkan strategi tersebut.
  2. Total insourcing   yaitu penyewaan atau peminjaman sumber daya manusia yang dimiliki pihak lain untuk dipekerjakan pada perusahaan terkait dalam jangka waktu tertentu. Banyak sekali perusahaan besar di Indonesia yang melakukan relasi bisnis sejenis ini terutama dengan menjalin kerjasama dengan perusahaan konsultan multinasional yang memiliki reputasi andal di bidang teknologi informasi.
  3. Selective sourcing   yaitu   perusahaan melakukan pemilahan terhadap fungsi-fungsi dan entitas bisnis yang terkait dengan teknologi informasi di perusahaannya dan memutuskan untuk menyerahkan sebagian saja kepada pihak lain sementara sisanya masih akan dikelola oleh perusahaan.
  4. De facto insourcing  yaitu   penyerahan pengelolaan teknologi informasi kepada perusahaan lain lebih dikare nakan adanya latar belakang sejarah, dibandingkan dengan hasil evaluasi objektif.
3. Tujuan/ Manfaat Outsourcing
Penerapan outsourcing  layanan teknologi informasi memiliki tujuan/manfaat bagi perusahaan. Beberapa kajian dari berbagai sumber mengenai tujuan/manfaat dan alasan perusahaan menerapkan  outsourcing  layanan teknologi informasinya akan dijabarkan berikut ini :

Menurut Chen dan Perry (2003), tujuan/manfaat outsourcing  layanan teknologi informasi yaitu :  

  1. Mendapatkan teknologi yang terkini. Melalui outsourcing  teknologi informasi, perusahaan dapat mengakses teknologi terkini beserta SDM yang profesional. Perusahaan biasanya mulai mempertimbangkan kebijakan  outsourcing  disaat merencanakanupgrade layanan teknologi informasi (TI) agar mendapatkan layanan TI yang terbaik. Dengan selalu menggunakan teknologi terkini yang disediakan oleh pihak vendor, diharapkan dapat membantu perusahaanmencapai tujuan mereka.
  2. Memenuhi kebutuhan SDM TI yang terampil. Perusahaan-perusahaan terkadang dihadapkan kepada permasalahan di dalam melaksanakan proyek-proyek besar teknologi informasi yaitu kekurangan akan personil TI yang terampil. Melalui  outsourcing diharapkan dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi, dikarenakan vendor memiliki tenaga kerja TI khusus untuk layanan yang mereka berikan, sehingga mereka diharapkan mampu memenuhi kebutuhan tenaga TI yang terampil bagi perusahaan.
  3. Waktu pembangunan dan penyebaran layanan TI yang lebih cepat. Waktu pembangunan dan penyebaran layanan TI yang cepat merupakan salah satu keuntungan yang diharapkan di dalam menerapkan kebijakan outsourcing  layanan TI. Bilamana perusahaan ingin membangun layanan TI sendiri, misalnya dengan melakukan  in-house , maka perusahaan akan dihadapkan kepada persoalan-persoalan seperti kebutuhan akan personil IT, pengintegrasian sistem lama dan sistem baru, pembangunan infrastruktur TI, dan pengambilan keputusan di dalam pengadaan berbagai perangkat dan komponen yang diperlukan. Hal ini dapat menjadi sesuatu yang berisiko sangat tinggi. Namun bilamana hal tersebut dilakukan dengan outsourcing , maka vendor dapat memberikan paket-paket solusi berupa personil TI, infrastruktur yang memadai, layanan yang terintegrasi, serta dukungan lainnya. Bilamana vendor telah berpengalaman dalam
    suatu jenis layanan tertentu, maka dapat dikatakan bahwa layanan/sistem tersebut telah teruji/terbukti sehingga permasalahan yang potensial dapat diantisipasi. Waktu pembangunan aplikasi dan penyebaran layanan aplikasi tersebut dapat berkurang setengah dari waktu yang diperlukan dibandingkan bilamana melakukan  in-house . Waktu pengerjaan pembangunan dan penyebaran sangatlah penting ketika perusahaan akan menerapkan sistem/layanan TI yang baru. Misalnya, pembaruan terhadap beberapa sistem dan infrastruktur TI yang harus segera dilakukan untuk menjamin keamanan sistem informasi.
  4. Fleksibilitas dalam hal teknologi  dan modul-modul (fitur-fitur). Melalui outsourcing  TI, perusahaan diberikan berbagai pilihan teknologi beserta modul-modul (fitur-fitur) yang akan digunakan. Salah satu kelemahan terbesar bilamana perusahaan membangun infrasruktur dan aplikasi sendiri adalah kekakuan terhadap teknologi yang digunakan. Selain itu pembiayaan investasi awal yang sangat besar untuk layanan TI
    yang terkadang memaksa perusahaan  untuk terus menggunakan teknologi yang telah usang dikarenakan alasan keterbatasan keuangan bilamana akan melakukan  upgrade teknologi. Mengingat sifat teknologi yang cepat berubah, maka penerapan  outsourcing  memungkinkan manajemen risiko yang lebih baik. Risiko teknologi dialihkan ke pihak vendor dikarenakan mereka bertanggung jawab penuh di dalam upgrade teknologi.
  5. Meningkatkan cash flow management. Outsourcing  dapat membantu perusahaan mengelola arus kas (cash flow management), dimana perusahaan dapat mengatur pembiayaan berdasarkan layanan yang diberikan, dan perusahaan tidak perlu melakukan investasi awal secara besar-besaran.
  6. Penghematan Biaya. Penghematan biaya merupakan salah satu tujuan di dalam melakukan outsourcing  layanan TI. Melalui skala  ekonomi memungkinkan vendor untuk menyediakan layanan dengan tingkat biaya yang lebih rendah dibandingkan bilamana ditangani se ndiri oleh perusahaan. Misalnya dengan penggunaan infrastruktur TI serta pemberdayaan SDM yang dimiliki oleh vendor secara bersama-sama oleh beberapa organisasi klien (perusahaan) dapat menekan biaya infrastruktur menjadi lebih murah dibanding perusahaan membangun infrastruktur TI sendiri dan menanganinya sendiri. Penghematan biaya dapat menjadi menjadi hal yang sangat signifikan ketika perusahaan dapat mengakuisisi suatu bidang spesialisasi yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan perusahaan.
Referensi:
  1. Domberger, S. (1998)  The Contracting Organisation: A Strategic Guide to Outsourcing . Oxford University Press, Oxford, UK.
  2. Elfing, T. and Baven, G. (1994)  Outsourcing technical services: stages of development.  Long Range Planning 27 (5): 42–51.
  3. Chen, Y.C. and Perry, J. (2003). “IT Outsourcing: A Primer for Public Manager”, http://www.businessofgovernment.org.
  4. Sharing Vision (2006). Why Outsource. The Art of Partnership : Outsourcing,Partnership & SLA. LPPM ITB.
  5. Eugene Garaventa, Thomas Tellefsen. (2001). Outsourcing : The Hidden Costs, Review of Business Journal, Vol 22, Spring.
  6. Maurice F.Greaver II. (1999). Strategic Outsourcing, a Structured Approach to Outsourcing Decisions and Initiatives , American Management Association, USA.
  7. Beaumont, N. and Sohal, A. (2004). “Outsourcing in Australia” ,  International Journal of Operations & Production Management, Vol. 21 No. 7, pp 688-700.
 

Rabu, 27 Juni 2012

0 Service Oriented Architecture (SOA)

1. Teori tentang Service Oriented Architecture (SOA)
SOA,  sebagai  paradigma  abstrak, seringkali  direpresentasikan  sebagai  arsitektur dasar  terdistribusi  tanpa  referensi  cara  untuk  mengimplementasikannya. Disandingkan  dengan  platform  layanan  Web  dan  satu  set  prinsip-prinsip  orientasi pelayanan yang umum diterima, SOA telah muncul sebagai platform arsitektur yang berbeda secara eksplisit dari pendahulunya. Hal  ini memperkenalkan  konsep-konsep baru  yang  didukung  oleh  teknologi terpilih  yang  secara  signifikan  meningkatkan karakteristik  platforms  komputasi  terdistribusi  umum  sehingga  lingkungan berorientasi-layanan sering kali berakhir mendefinisikan ulang infrastruktur TI.

SOA  adalah  sebuah  kerangka  kerja  untuk  mengintegrasikan  proses  bisnis  dan mendukung  infrastruktur  teknologi  informasi  dan  menstandarisasi  komponen-komponen  layanan  yang  dapat  digunakan  kembali  dan  digabungkan  sesuai  dengan prioritas  bisnis.  SOA  bersifat  loosely  coupled  (tingkat  kebergantungan  antar komponen  rendah), highly  interoperable  (mudah  dioperasikan),  reusable  (dapat digunakan kembali), dan interoperability (dapat berkomunikasi antar platform).

2. Definisi SOA
Thomas Erl:
"SOA  is  a  form  of  technology  architecture  that  adheres  to  the  principles  of  service-orientation.  When  realized  through  the  Web  services  technology  platform,  SOA establishes  the  potential  to  support  and  promote  these  principles  throughout  the business process and automation domains of an enterprise".

Judith Hurtwiz, et.al:
"SOA is an architecture for building business applications as a set of loosely coupled black  box  components  orchestrated  to  deliver  a  well-defined  level  of  service  by linking together business processes".

3. Prinsip-prinsip SOA
  1. Loose  coupling. Layanan  menjaga  hubungan  yang  meminimalkan  dependensi dan hanya mempertahankan kesadaran akan keberadaan satu sama lain.
  2. Kontrak  layanan. Layanan  mematuhi  perjanjian  komunikasi,  seperti  yang didefinisikan secara kolektif oleh satu atau lebih deskripsi layanan dan dokumen terkait.
  3. Otonomi. Jasa memiliki kendali atas logika yang mereka encapsulate.
  4. Abstraksi. Melampaui  apa  yang  dijelaskan  dalam  kontrak  jasa,  layanan menyembunyikan logika dari dunia luar.
  5. Reusability  Logika  dibagi  menjadi  layanan-layanan  dengan  tujuan mempromosikan penggunaan kembali.
  6. Koleksi  layanan  Composability  dapat  dikoordinasikan  dan  dirakit  untuk membentuk layanan komposit.
  7. Layanan Statelessness meminimalkan informasi yang tersisa spesifik untuk suatu kegiatan.
  8. Layanan Discoverability  dirancang agar   terlihat deskriptif  sehingga  mereka dapat ditemukan dan digunakan melalui mekanisme penemuan yang tersedia.  
4. Keuntungan SOA
Terdapat  beberapa  keuntungan  dalam  mengadaptasi  SOA.  Namun,  banyak keuntungan  yang  dijanjikan  oleh  SOA  tidak  terlihat  hingga  prinsip-prinsip  orientasi pada layanan sudah tertanam pada perusahaan. 

  1. Peningkatan  integrasi  (dan  interoperabilitas  intrinsik). Biaya  dan  upaya  integrasi  lintas-aplikasi  yang  secara  signifikan  menurun  ketika aplikasi yang terintegrasi adalah SOA-compliant.
  2. Inherent Use. Membangun layanan  yang inherently  reusable membutuhkan  usaha  ekstra dan memerlukan  penggunaan  standar  desain. Selanjutnya  meningkatkan penggunaan kembali dalam  layanan akan menurunkan  biaya  dan  upaya  membangun  solusi service-oriented.
  3. Merampingkan arsitektur dan solusi. Pesan  komunikasi  berbasis  SOA mampu,  pada  kenyataannya, meningkatkan persyaratan  kinerja  jika  dibandingkan  dengan  gaya  komunikasi  RPC  dalam arsitektur tradisional terdistribusi.
  4.  Meningkatkan investasi warisan (legacy). Biaya  dan  upaya  mengintegrasikan  warisan  dan  solusi  kontemporer diturunkan. Kebutuhan sistem warisan harus diganti berpotensi berkurang.
  5. Menetapkan standar representasi data XML. Biaya  dan  upaya  pengembangan  aplikasi  berkurang  setelah  proliferasi  standar representasi data XML dicapai. 
  6. Fokus investasi pada infrastruktur komunikasi. Biaya  skala  infrastruktur  komunikasi  berkurang,  karena  hanya  satu  teknologi komunikasi diperlukan untuk mendukung bagian federasi dari perusahaan.
  7. Alternatif  "Best-of-breed". Potensi cakupan pemenuhan kebutuhan bisnis meningkat, seperti halnya kualitas
    otomatisasi bisnis. 
  8. Keleluasaan organisasi. Biaya  dan  upaya  untuk  merespon  dan  beradaptasi  dengan  perubahan  bisnis  atau teknologi yang berhubungan berkurang. 
Referensi:

Erl,  Thomas. Service  Oriented  Architecture:  Concepts,  Technology,  and  Design, S.L.: Prentice Hall PTR, 2005.
Hurtwiz, Judith, et al. Service Oriented Architecture for Dummies. Indianapolis : Wiley Publishing Inc., 2009.

0 RACI Chart pada COBIT 4.1 Framework

RACI  pada  COBIT 4.1 berfungsi  untuk  menunjukkan  peran  dan  tanggungjawab suatu  fungsi  dalam organisasi  terhadap  suatu  aktivitas  tertentu  dalam IT  control objective. Peran dan tanggungjawab merupakan dua hal yang sangat berkaitan erat dengan  proses  pembuatan  keputusan.  Suatu  keputusan  dapat  dibuat  oleh  pihak- pihak yang memang memiliki kewenangan sebagai pembuat keputusan.

RACI  diterapkan  pada  setiap  aktivitas  di  dalam IT  control  objective  untuk mendukung kesuksesan IT process pada keempat domain. Tujuan dari pemberian peran  dan  tanggungjawab  ini  adalah  untuk  memperjelas  pemilik aktivitas, sekaligus  sebagai  sarana  untuk  menentukan  peran  dari  fungsi-fungsi  lainnya terhadap suatu aktivitas tertentu. Pembahasan tiap aktivitas pada setiap IT control objective akan  disampaikan  dalam  bentuk  diagram yang  menghubungkan  antara aktivitas  dengan  fungsi-fungsi  yang  terdapat  dalam  organisasi.  Diagram  ini kemudian disebut sebagai RACI Chart.

Peran-peran dalam RACI chart dikategorisasikan untuk semua proses sebagai:
1.  CEO (Chief of Executive Officer)
2.  CFO (Chief of Financial Officer)
3.  Business Executive
4.  CIO (Chief of Information Officer)
5.  Business Process Owner
6.  Head Operations
7.  Chief Architect
8.  Head Development
9.  Head IT Administration
10. PMO (Project Manager Officer)
11. Compliance, Audit, Risk and Security
12. Service Manager

Referensi:
ITGI (2007): COBIT 4.1, IT Governance Institute, Illinois, USA. www.itgi.org
 

Blog CIO Indonesia Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates